JOMBANG, LAMPUNG.fun -- Akun media sosial Threads @kosongsatuid mengunggah narasi bertajuk “9 RAMADAN DAN API KEMERDEKAAN” sekitar 16 jam lalu. Dalam unggahan tersebut, akun yang terverifikasi itu menyoroti peringatan kemerdekaan yang dilakukan Thoriqoh Shiddiqiyyah di Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, setiap tanggal 9 Ramadan.
Dalam tulisannya, akun tersebut menyebutkan: “Saat euforia 17 Agustus meredup, Thoriqoh Shiddiqiyyah di Ploso, Jombang, justru menyalakan peringatan kemerdekaan tiap 9 Ramadan. Mereka merujuk fakta historis: 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 Hijriah.”
Narasi itu menekankan bahwa momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus dalam kalender Masehi, memiliki keterkaitan dengan kalender Hijriah. Berdasarkan catatan sejarah, 17 Agustus 1945 memang bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 H. Hal inilah yang menjadi rujukan utama Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam memperingati kemerdekaan pada tanggal tersebut setiap tahunnya.
Lebih lanjut, akun tersebut menuliskan: “Bagi Shiddiqiyyah, 17 Agustus adalah kemerdekaan Bangsa Indonesia, sedangkan 18 Agustus 1945 menandai lahirnya Negara Republik Indonesia. Pemisahan istilah ‘bangsa’ dan ‘negara’ ini ditegaskan Mursyid Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi.”
Dari kutipan tersebut, terlihat adanya penekanan pada pembedaan makna antara “bangsa” dan “negara.” Dalam perspektif yang disampaikan, 17 Agustus dipahami sebagai momentum kemerdekaan bangsa, yakni terbebasnya rakyat Indonesia dari penjajahan. Sementara 18 Agustus 1945 merujuk pada pengesahan Undang-Undang Dasar 1945 dan penetapan struktur kenegaraan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang kemudian menjadi tonggak berdirinya Negara Republik Indonesia secara formal.
Unggahan tersebut juga disertai foto kegiatan bertema “Sujud Syukur.” Dalam gambar yang beredar, tampak sejumlah jamaah mengikuti kegiatan doa bersama di dalam sebuah ruangan yang menyerupai aula atau masjid. Di bagian depan ruangan terlihat spanduk bertuliskan “SUJUD SYUKUR” dengan nuansa warna merah putih, serta lambang Garuda Pancasila di bagian atas. Para peserta tampak mengenakan busana muslim dan duduk bersila menghadap ke arah depan, mengikuti rangkaian acara.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan tambahan dalam unggahan tersebut mengenai detail waktu pelaksanaan kegiatan yang dimaksud, selain penegasan bahwa peringatan dilakukan setiap 9 Ramadan. Tidak ada pula penjelasan lebih lanjut mengenai rangkaian acara selain konteks sujud syukur sebagai bentuk peringatan dan rasa terima kasih atas kemerdekaan.
Secara historis, 17 Agustus 1945 merupakan tanggal pembacaan teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta di Jakarta. Sementara pada 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 serta menetapkan Soekarno sebagai Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden. Dua tanggal tersebut memang memiliki keterkaitan erat dalam proses lahirnya Indonesia sebagai bangsa dan negara yang merdeka.
Peringatan kemerdekaan di Indonesia pada umumnya dipusatkan pada 17 Agustus setiap tahun dengan berbagai kegiatan, mulai dari upacara bendera hingga lomba rakyat. Namun, beberapa komunitas dan organisasi memiliki cara tersendiri dalam memaknai momentum tersebut, termasuk dengan mengaitkannya pada kalender Hijriah sesuai keyakinan dan interpretasi historis masing-masing.
Unggahan akun @kosongsatuid tersebut memantik perhatian warganet karena menghadirkan sudut pandang berbeda terkait peringatan kemerdekaan. Dengan merujuk pada kesesuaian tanggal 17 Agustus 1945 dan 9 Ramadan 1364 H, Thoriqoh Shiddiqiyyah di Ploso disebut secara konsisten memperingatinya setiap 9 Ramadan.
Sebagai informasi, setiap organisasi kemasyarakatan memiliki hak untuk mengekspresikan pandangan dan tradisinya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peringatan dalam bentuk doa atau sujud syukur merupakan salah satu bentuk ekspresi religius yang kerap dilakukan dalam berbagai momentum penting.
Berita ini disusun berdasarkan kutipan langsung dari unggahan akun Threads @kosongsatuid dan informasi sejarah yang telah menjadi catatan umum. Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi tambahan dari pihak Thoriqoh Shiddiqiyyah terkait unggahan tersebut.
"Penulis: (iskandar: 31252)."
