PEMATANG SIANTAR, LAMPUNG.fum – Persatuan Marga Keturunan Raja Sitempang Kota Pematangsiantar menggelar perayaan doa bersama dalam rangka Bona Taon (syukuran awal tahun) sebagai ungkapan rasa syukur atas berkat dan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 15 Februari 2026, tersebut digelar di Aula SMP Budi Mulia, Jalan Melanton Siregar No. 160, Kota Pematangsiantar, dan dihadiri ribuan pomparan (keturunan) Raja Sitempang dari berbagai wilayah di sekitar kota tersebut.
Perayaan perdana ini berlangsung khidmat dan sarat nilai budaya. Nuansa adat Batak kental terasa sejak awal kegiatan. Sebelum memasuki aula, pengurus, panitia, serta seluruh anggota punguan (perkumpulan) Raja Sitempang terlebih dahulu berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh Pdt. Sardi Lamhot Parulian Sitanggang, S.Th.
Setelah doa, rombongan memasuki ruangan secara berbaris, diiringi lagu Mars Raja Sitempang yang menggema penuh semangat kebersamaan.
Acara resmi dimulai pukul 10.00 WIB dengan ibadah kerohanian bersama. Panggilan ibadah dilanjutkan dengan lantunan lagu “Naung Salpu Taon Na Buruk I” yang bermakna telah berlalu tahun yang kurang baik dan digantikan dengan pengharapan serta kebaikan di tahun yang baru. Lagu tersebut dipandu para song leader dan disambut antusias oleh seluruh peserta yang memenuhi aula.
Dalam khotbahnya, Pdt. Sardi Lamhot Parulian Sitanggang mengajak seluruh anggota punguan untuk senantiasa bersyukur atas penyertaan Tuhan sehingga keluarga besar Raja Sitempang dapat merayakan kebersamaan hingga tahun 2026.
Ia juga menyinggung dinamika organisasi dalam sebuah perkumpulan marga.
“Dalam setiap organisasi atau perkumpulan komunitas, termasuk dalam kumpulan marga, karakter pengurus selalu terdiri dari empat tipe, yakni tipe rajin, tipe malas, tipe sibuk, dan tipe tidak peduli,” ujarnya di hadapan jemaat.
Ia mengingatkan agar anggota punguan tidak menunjukkan sikap malas dan tidak peduli, karena seluruh pomparan Raja Sitempang merupakan satu keluarga besar.
Tema yang diusung dalam Bona Taon perdana ini adalah “Kasih Pengikat Persatuan Keluarga Pomparan Raja Sitempang” yang mencakup marga Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk, Sidauruk, Mpu Bada, dan Garingging. Melalui tema tersebut, seluruh anggota diharapkan membangun keluarga marga yang penuh kasih, saling mengampuni, dan saling menopang.
Ketua Panitia Bona Taon Raja Sitempang 2026, Kakden Manihuruk (Op. Otto), dalam laporan pertanggungjawabannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pengurus serta punguan yang telah mendukung terselenggaranya acara. Ia menyebut dukungan datang dari Pengurus Punguan Purasitabor, Pengurus Punguan Raja Sigalingging, Pengurus Punguan Raja Sidauruk, Pengurus Punguan Mpu Bada, dan Pengurus Punguan Garingging.
“Hari ini terlihat kasih sayang di antara kita, marga Sitanggang, Sigalingging, Manihuruk, Sidauruk, serta keturunan Mpu Bada dan Garingging. Kita bisa duduk bersama sebagai satu keluarga besar Raja Sitempang,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Punguan Raja Sitempang Kota Pematangsiantar, Drs. Halomoan Sitanggang (Op. Audry), dalam sambutannya menyampaikan bahwa perjalanan sebuah punguan tidak selalu berjalan mulus. Menurutnya, setiap organisasi pasti mengalami pasang surut serta berbagai sorotan dari anggota.
“Hampir semua kumpulan marga mengalami masa pasang surut. Begitu juga dengan pengurus Raja Sitempang Kota Pematangsiantar. Namun sebagai pengurus terpilih, kami harus siap menghadapi tantangan dan tidak akan mundur karena dukungan keluarga besar Raja Sitempang,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Bona Taon tidak hanya sekadar acara seremonial, melainkan wujud pesta budaya. Secara moral, punguan memiliki kewajiban melestarikan nilai-nilai budaya leluhur Raja Sitempang kepada generasi penerus. Untuk itu, panitia turut mengundang tokoh adat dari Samosir, Pinompar ni Raja Sitempang, guna menjelaskan tarombo (silsilah) Raja Sitempang agar tidak terjadi perbedaan persepsi di kemudian hari.
Salah satu rangkaian penting dalam acara tersebut adalah ritual Manjalo Tua Ni Gondang yang dipandu tokoh adat dari Samosir, Dongan P. Sitanggang, yang akrab disapa Kombur Adat.
Dalam prosesi ini, pargondang memainkan gondang sabangunan sebagai simbol permohonan doa kepada Tuhan agar seluruh pomparan Raja Sitempang diberi kesehatan, keberkahan, serta kesuksesan.
Ritual berlangsung khidmat dengan iringan musik gondang yang mengalun syahdu. Para peserta tampak larut dalam suasana haru sekaligus bangga atas warisan budaya yang tetap lestari. Menurut Dongan Sitanggang, gondang bukan sekadar musik pengiring, tetapi sarana penyampaian doa dan harapan dalam tradisi Batak.
Selain itu, keluarga besar punguan juga diajak menikmati makan bersama dalam tradisi Sapa Bolon atau Sada Panganan Bolon.
Sapa merupakan piring kayu tradisional Batak berdiameter sekitar 30–40 sentimeter yang melambangkan kebersamaan dan berkat. Dalam tradisi ini, makanan utama yang disajikan adalah dengke na hinongkoman (ikan mas arsik) yang dipercaya sebagai simbol tolak bala dan doa keselamatan.
Jumlah ikan yang disajikan disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga sebagai lambang keharmonisan dan solidaritas. Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol kuat persatuan, sekaligus wujud syukur kepada Tuhan atas berkat yang diterima sepanjang tahun.
Perayaan Bona Taon perdana Punguan Raja Sitempang Kota Pematangsiantar ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi antar marga, tetapi juga menjadi momentum pelestarian adat dan budaya Batak di tengah perkembangan zaman. Melalui gondang, doa, serta kebersamaan dalam satu piring, keluarga besar Raja Sitempang meneguhkan komitmen untuk menjaga persatuan dalam bingkai kasih, sesuai tema yang diusung pada perayaan tahun ini.
Penulis: (iskandar)
