LAMPUNG, AMPUNG.fun – Sebuah unggahan video di media sosial Facebook yang melintas di beranda warganet memantik perhatian publik. Dalam video tersebut tertulis, “Warga Pringsewu ini berhasil sampai Mekkah menggunakan sepeda selama 182 hari.” Unggahan itu disertai tagar #Pringsewu24Jam dan memperlihatkan suasana kota Mekkah dari ketinggian saat matahari terbenam.
Video yang dibagikan akun “Albab Seputar Prings…” dengan lokasi Pringsewu, Lampung, Indonesia, langsung menuai beragam komentar. Hingga tangkapan layar diambil, tercatat puluhan ribu tanda suka, ratusan komentar, dan ratusan kali dibagikan. Respons warganet pun beragam, mulai dari ucapan selamat, doa, hingga pertanyaan kritis seputar perjalanan tersebut.
Salah satu akun, Zaki Muhamad, menuliskan, “182 hari, apakah full gowes dari Pringsewu, diluar naik kapal laut atau pesawat?” Pertanyaan ini mendapat puluhan tanda suka dan memicu diskusi lanjutan di kolom komentar.
Akun lain, Apri Riswoyo, berkomentar, “Klo pulangnya naek pesawat bisa cepat. Tpi klo brngkat di sarankan naek sepeda cuma 182 hari karena klo naek pesawat bisa sampai 30 tahun baru sampek.” Komentar tersebut bernada gurauan dan mendapat respons cukup tinggi dari pengguna lain.
Sementara itu, Ita Nanda Ajje menyoroti aspek biaya. Ia menulis, “Habis biaya berapa mas klo ke mekkah naik sepeda? soalnya sy pengen bgt umroh tpi dana blm ada, setiap liat VT soal ibadah haji/umroh sy cma bisa nangis saking pengennya… dn takut gak kesampaian krna umur sudh 44 tahun.” Ungkapan ini menggambarkan harapan dan kegelisahan sebagian masyarakat yang mendambakan ibadah ke Tanah Suci.
Komentar lain datang dari Ade Irma Suryanii yang menandai seseorang dan menulis, “Al Vin si paling pecicilan, si paling blak-blakan. Alhamdulillah sudah sampai ya vin. Pulangnya naik sepeda lagi kah?” Ada pula Nurul Hidayat Mebeler yang mempertanyakan kelengkapan dokumen perjalanan, “Apa ga bawa dokumen… Seperti paspor… Visa… Atau dokumen lain untuk melintasi setiap negara yg di lewati nya… Bisa di jelaskan ga…”
Pertanyaan serupa juga diajukan Enih Rohaenih, “Emang lewat mana ya naik sepeda bisa ke Makkah?” serta Dedi Usaha Mulia, “Apa kalo naik sepeda harus ada vaksin, siskopatuh, sama visa?” Komentar-komentar ini menunjukkan perhatian publik terhadap prosedur administrasi dan regulasi perjalanan lintas negara.
Akun Agus Senggung turut memberikan informasi tambahan dengan menulis, “Beliau orang Pekon Sukoyoso kecamatan Sukoharjo, mas Finza, selamat ya akhirnya bisa sampai ke rumah Allah.” Ucapan selamat dan doa juga disampaikan Kusuma Dewi, “Masyaallah Alhamdulillah SDH sampai mass titip doa ya mas tahun ini diberi umur panjangnya dicukupkan rezeki dimudahkan segala urusannya. Terakhir liat mau berngkat dikantor bupati saya liat sampean berngkat naik sepedah di tempuh berpa bulan Sampek tanah suci.”
Namun, tidak semua komentar bernada optimistis. Deo Backstreet menuliskan keraguan, “Saya kurang yakin untuk sampai ke Mekkah naik sepeda 182 hari.. menyeberangi…” Komentar ini mencerminkan sikap kritis sebagian warganet terhadap klaim perjalanan tersebut.
Berdasarkan penelusuran dari isi unggahan dan komentar publik, narasi yang berkembang menyebutkan bahwa seorang warga Pringsewu, diduga berasal dari Pekon Sukoyoso, Kecamatan Sukoharjo, melakukan perjalanan menuju Mekkah dengan sepeda dan menempuh waktu sekitar 182 hari. Meski demikian, hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi terkait rute detail perjalanan, moda transportasi yang digunakan saat menyeberangi lautan, maupun dokumen perjalanan yang dipersyaratkan.
Lampung.fun berupaya menyajikan informasi ini secara berimbang dengan mengutip langsung pernyataan yang beredar di ruang publik media sosial. Redaksi mengimbau pembaca untuk tetap kritis dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak terkait guna memastikan keakuratan informasi.
Fenomena ini setidaknya menunjukkan besarnya antusiasme dan empati masyarakat terhadap kisah perjuangan menuju Tanah Suci. Di tengah beragam respons, unggahan tersebut menjadi refleksi tentang harapan, keyakinan, serta semangat pantang menyerah dalam menggapai impian spiritual.
Penulis: (iskandar)

