KETERANGAN GAMBAR:
Proses pembuatan kue talam singkong sederhana dengan lapisan santan kental yang menggugah selera.
LIFESTYLE, LAMPUNG.fun -- Gaya hidup sederhana kini semakin diminati masyarakat, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya hidup hemat, sehat, dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu wujud nyata dari tren tersebut terlihat dalam unggahan akun Threads bernama peggi8 yang membagikan proses pembuatan kudapan tradisional berbahan dasar singkong, Jumat (30/1/2026).
Dalam unggahan tersebut, peggi8 menuliskan, “Meskipun modal murah meriah tapi jadi rebutan Mak Mak, bisa dibilang kue sultan #talamsingkong #idetakjil.” Unggahan ini telah menarik perhatian warganet dan ditonton ribuan kali, membuktikan bahwa makanan sederhana tetap memiliki daya tarik tinggi di tengah gempuran kuliner modern.
Konten video yang dibagikan memperlihatkan tahapan pembuatan kue talam singkong secara sederhana.
Dalam salah satu cuplikan, terlihat singkong yang telah diperas untuk memisahkan sari patinya. Cairan hasil perasan tersebut kemudian digunakan kembali sebagai bahan adonan, menandakan pemanfaatan bahan secara maksimal tanpa pemborosan.
Proses ini mencerminkan nilai gaya hidup sederhana yang mengedepankan efisiensi dan keberlanjutan.
Pada tahap berikutnya, adonan singkong yang telah diolah dimasukkan ke dalam loyang dan dikukus. Video juga memperlihatkan lapisan santan kental yang dituangkan perlahan di atas adonan singkong yang telah matang sebagian.
Lapisan putih dari santan tersebut menjadi ciri khas kue talam, memberikan rasa gurih yang seimbang dengan manisnya singkong.
Kue talam singkong dikenal sebagai salah satu makanan tradisional yang mudah dibuat dengan bahan yang terjangkau.
Singkong, sebagai bahan utama, merupakan sumber karbohidrat alami yang mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Selain mengenyangkan, singkong juga mengandung serat yang cukup baik untuk pencernaan apabila diolah dengan tepat.
Dari sisi gaya hidup, makanan ini merepresentasikan konsep back to basic, yakni kembali pada makanan rumahan yang sederhana, bergizi, dan minim proses berlebihan.
Tanpa bahan pengawet, tanpa pemanis buatan, serta tanpa teknik memasak yang rumit, kue talam singkong menjadi contoh nyata bahwa pola makan sederhana tetap bisa menghadirkan kualitas dan cita rasa yang memuaskan.
Unggahan peggi8 juga menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak harus kehilangan nilai estetika. Tampilan kue yang rapi, dengan lapisan singkong berwarna kecokelatan dan santan putih yang lembut, membuatnya tampak menarik dan menggugah selera.
Hal ini membuktikan bahwa kreativitas dalam penyajian dapat meningkatkan nilai sebuah hidangan, meskipun berbahan dasar sederhana.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan peran media sosial dalam menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap kuliner lokal. Melalui platform Threads, resep-resep rumahan yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan terbatas kini dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Dampaknya, makanan tradisional seperti kue talam singkong kembali mendapat tempat dalam keseharian masyarakat, khususnya sebagai ide takjil atau camilan keluarga.
Dari perspektif lifestyle, pembuatan makanan sendiri di rumah juga mendukung kebiasaan hidup yang lebih sehat dan ekonomis. Selain dapat mengontrol bahan yang digunakan, memasak sendiri memungkinkan keluarga menekan pengeluaran tanpa harus mengorbankan kualitas konsumsi.
Hal ini sejalan dengan tren gaya hidup sederhana yang kini banyak diterapkan oleh berbagai kalangan.
Meskipun disebut sebagai “kue sultan” oleh warganet, sebutan tersebut lebih merujuk pada rasa dan kepuasan yang dihasilkan, bukan pada harga bahan yang mahal. Justru sebaliknya, kue talam singkong menunjukkan bahwa kemewahan tidak selalu identik dengan biaya tinggi, melainkan dengan ketepatan pengolahan dan nilai kebersamaan yang tercipta saat menyantapnya.
Dengan demikian, unggahan peggi8 tidak hanya sekadar berbagi resep, tetapi juga menyampaikan pesan gaya hidup: hidup sederhana, memanfaatkan bahan lokal, dan menikmati hasil olahan sendiri. Nilai-nilai ini relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang semakin selektif dalam menentukan pola konsumsi dan gaya hidup sehari-hari.
Editor: (iskandar)

