Mengabdi 14 Tahun, Digaji Rp200 Ribu: Potret Pilu Nasib Guru PAUD di Tengah Janji Pendidikan


Keterangan Gambar:
Seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang telah mengabdi selama 14 tahun menyampaikan pengakuan terkait kondisi kesejahteraannya, dengan gaji yang diterima hanya sekitar Rp200 ribu per bulan, sebagaimana diunggah dalam sebuah video di media sosial Threads.

JAKARTA, LAMPUNG.fun -- Kondisi kesejahteraan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kembali menjadi sorotan publik. Sebuah unggahan akun media sosial Threads bernama @suaraakarrumputt mengungkap realitas pahit yang dialami sebagian guru PAUD di Indonesia, yang hingga kini masih menerima upah jauh di bawah kelayakan.

Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan. “Miris, tapi ini nyata. Belasan tahun mengabdi mencerdaskan generasi, namun negara hanya menghargainya Rp200 ribu per bulan. Bahkan ada yang cuma Rp100 ribu.”

Unggahan itu juga menyoroti pertanyaan besar mengenai keberpihakan negara terhadap tenaga pendidik usia dini, yang selama ini disebut sebagai fondasi masa depan bangsa.

“Di mana kehadiran pemerintah saat guru PAUD—pondasi masa depan bangsa—dipaksa bertahan dengan upah yang bahkan tak layak disebut gaji?”

“Jika pendidikan adalah prioritas, seharusnya kesejahteraan guru bukan sekadar janji, tapi tanggung jawab.”

Dalam unggahan yang sama, turut disematkan sejumlah tagar seperti #gajiguru, #guru, #pendidikan, #honorer, dan #viral, yang menandakan keresahan ini dirasakan luas oleh masyarakat.

Video yang menyertai unggahan tersebut menampilkan seorang perempuan berjilbab yang disebut telah mengajar PAUD selama 14 tahun, namun hanya menerima gaji Rp200 ribu per bulan. Unggahan ini pun mendapat respons dari warganet berupa tanda suka, komentar, dan dibagikan ulang, menandakan kuatnya perhatian publik terhadap isu kesejahteraan guru honorer.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat klarifikasi resmi dari instansi pemerintah terkait mengenai kasus spesifik yang diunggah tersebut. Namun demikian, persoalan rendahnya honor guru PAUD dan tenaga pendidik non-ASN telah lama menjadi perhatian nasional dan kerap disuarakan dalam berbagai forum pendidikan.

Isu ini kembali mengingatkan bahwa perbaikan mutu pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum dan fasilitas, tetapi juga menyangkut penghargaan yang layak bagi para pendidik, khususnya mereka yang berperan penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. (is).



MEDIA ONLINE
LAMPUNG.fun
Kabar Nusantara Terkini
Home Berita Daerah Berita Lampung Berita Nasional Berita Lifestyle Berita Ekonomi Berita Peristiwa Berita Kriminal Berita Utama Berita Olahraga Berita Publikasi