PRINGSEWU, LAMPUNG.fun – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TK Nurul Qomar, Pekon Way Gison I, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, kembali menuai sorotan publik. Program nasional yang sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak usia dini tersebut diprotes sejumlah wali murid setelah makanan yang dibagikan dinilai tidak layak konsumsi dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan peserta didik.
Keluhan wali murid mencuat pada Sabtu (16/1/2026). Sejumlah orang tua mengungkapkan bahwa makanan yang diterima anak-anak diduga tidak segar, berbau tidak sedap, bahkan terasa pahit saat dicicipi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, mengingat sasaran program adalah anak-anak usia taman kanak-kanak yang rentan terhadap gangguan kesehatan.
Salah satu wali murid menyampaikan protesnya melalui pesan WhatsApp kepada redaksi media. Dalam pesan tersebut tertulis, “Muntuke bureng bu, gak bisa dimakan, pait,” yang menggambarkan secara langsung kondisi makanan yang diterima anaknya. Ungkapan tersebut memperkuat dugaan bahwa makanan dalam program MBG di sekolah tersebut tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi.
Menanggapi keluhan tersebut, salah satu guru TK Nurul Qomar berinisial GP memberikan klarifikasi kepada media pada hari yang sama.
Melalui pesan WhatsApp, GP membenarkan adanya komplain dari wali murid dan menyatakan bahwa pihak sekolah segera meneruskan keluhan itu kepada pelaksana Program MBG.
“Iya benar sekali, Pak. Setelah wali murid komplain dan saya sampaikan kepada pihak MBG, mereka sigap langsung mengganti dan mengantarkan makanan ke sekolah,” tulis GP dalam keterangannya.
Meski demikian, GP menyayangkan lemahnya pengawasan kualitas makanan sejak tahap awal. Menurutnya, makanan yang tidak layak seharusnya dapat terdeteksi sebelum didistribusikan kepada peserta didik.
“Tapi yang disayangkan, kenapa tidak diperhatikan dari awal kalau itu tidak layak dimakan,” lanjutnya.
Lebih jauh, GP mengungkapkan bahwa persoalan kualitas makanan dalam program MBG bukan kali pertama terjadi. Ia menyebutkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, keluhan serupa sempat berulang dan menjadi perhatian pihak sekolah.
“Memang dalam beberapa bulan terakhir ini hal itu terjadi,” pungkasnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program nasional pemerintah yang bertujuan meningkatkan status gizi anak sekolah, menurunkan angka stunting, serta mendukung pembangunan sumber daya manusia unggul. Selain itu, program ini juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal dengan melibatkan petani serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai penyedia bahan pangan.
Namun, kasus yang terjadi di TK Nurul Qomar menunjukkan pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas, kebersihan, dan keamanan makanan. Tanpa pengawasan yang memadai, tujuan mulia program berisiko tidak tercapai dan justru dapat membahayakan kesehatan anak-anak sebagai penerima manfaat utama.
Pihak sekolah sebelumnya menyatakan telah menerima aspirasi wali murid dan berkomitmen mengutamakan keselamatan peserta didik. Sekolah menegaskan tidak akan mendistribusikan makanan apabila dinilai tidak layak konsumsi dan akan terus berkoordinasi dengan pelaksana program agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala TK Nurul Qomar belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp belum memperoleh respons, karena nomor yang dihubungi dilaporkan tidak aktif.
Para wali murid berharap instansi terkait, baik pelaksana Program Makan Bergizi Gratis maupun pihak berwenang, dapat melakukan evaluasi menyeluruh dan meningkatkan pengawasan.
Evaluasi tersebut dinilai penting agar pelaksanaan program benar-benar sesuai dengan tujuan, standar kesehatan terpenuhi, serta hak anak atas makanan yang aman dan bergizi dapat terlindungi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pers dan kode etik jurnalistik.
Sumber SniperNew.id:
Penulis: (Jamhari & Iskandar)
