Gambar. Unggahan akun Threads @topan_buana_s yang menyoroti makna ketenangan dan refleksi diri sebagai bagian dari gaya hidup modern.
LAMPUNG, fun -- ebuah unggahan di media sosial Threads dari akun @topan_buana_s mendadak menarik perhatian warganet. Bukan karena kemewahan yang dipamerkan, melainkan karena narasi reflektif tentang cara memandang hidup, kecemasan, dan pilihan untuk tetap tenang di tengah hiruk pikuk dunia, Jumat (22/1/2026).
Dalam unggahannya yang dipublikasikan pada 22 September 2025, pemilik akun menegaskan bahwa ketenangan bukan berarti bebas dari masalah atau pikiran negatif.
“Bukannya tidak cemas atas apa yang aku alami, atau merasa tidak takut dengan apa yang terjadi,” tulisnya.
Ia mengakui bahwa pikiran negatif adalah sesuatu yang hadir setiap hari, namun yang membedakan adalah keputusan untuk tidak terus larut di dalamnya.
“Bukan berarti tidak ada pikiran negatif dalam diriku. Setiap hari dan setiap saat pikiran negatif selalu ada. Namun saya memilih untuk tidak melanjutkannya.”
Unggahan tersebut juga menyertakan kutipan bernuansa kearifan lokal berbahasa Jawa yang sarat makna.
“Kene wong cilik seng mburu ayeme ati, mbok critani gaya hidup mewah yo mengheningkan cipta.”
Sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa kemewahan sejati tidak selalu berwujud materi, melainkan ketenangan batin dan kemampuan mengendalikan diri.
Narasi itu ditutup dengan gambaran sederhana namun kuat secara simbolik.
“Teras rumah, secangkir kopi, dan kalibrasi.”
Ungkapan tersebut menggambarkan gaya hidup minimalis modern, di mana ketenangan, refleksi diri, dan kesadaran penuh (mindfulness) menjadi bentuk “kemewahan” baru di tengah tekanan sosial, tuntutan ekonomi, dan banjir informasi digital.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran makna gaya hidup mewah di kalangan masyarakat urban dan generasi digital. Bukan lagi soal apa yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang mengelola pikiran, emosi, dan pilihan hidupnya.
Unggahan tersebut mendapat respons positif dari pengguna Threads yang merasa relevan dengan pesan tentang ketenangan, kesederhanaan, dan keberanian memilih damai di tengah ketidakpastian.
Penulis: (Iskandar)
